Pada 25 Desember, tagar “Ken Chu melaporkan perusahaan Mayday” melesat ke posisi teratas pencarian Weibo dan memicu ramai perbincangan warganet.
Ken Chu, eks personel F4, secara terbuka menyampaikan dugaan adanya praktik yang dinilainya tidak wajar yang berkaitan dengan Bin Music, agensi yang menaungi band Mayday.
Lewat grup VIP penggemar, Ken menuding Believe Music tidak lagi menggunakan sistem penjualan tiket milik mitra mereka, Chinese Music, dan justru sengaja mengalihkan kerja sama ke platform Damai.
Ia menduga perubahan tersebut membuka celah bagi aktivitas calo yang membuat harga tiket konser melonjak tajam. Ken juga menduga selisih keuntungan dari harga tiket itu kemudian dibagi dengan cara tertentu agar terhindar dari kewajiban pajak atas nilai tambah.
Ken turut menyebut perusahaan tersebut membentuk dua entitas terkait di Tiongkok daratan, yaitu perusahaan musik dan perusahaan dagang. Menurutnya, ada indikasi laporan honor artis tidak sesuai nilai sebenarnya, sementara sebagian dana dialirkan melalui perusahaan dagang lalu dikirim ke luar negeri, yang ia duga bertujuan menghindari pajak.
Di luar isu finansial, Ken juga membagikan pengalaman pribadinya saat tampil. Ia mengaku pernah diminta merekam vokal lebih dulu untuk kebutuhan lip sync ketika manggung di Taipei Arena dan Stadion Nasional Beijing.
Ken menekankan bahwa ia memilih tetap bernyanyi live meski sedang mengalami tinnitus dan berisiko membuat suaranya tidak stabil. Pernyataan ini pun dinilai publik sebagai sindiran terhadap dugaan praktik serupa yang sempat diarahkan kepada Mayday.
Sampai saat ini, Believe Music belum merilis pernyataan resmi untuk menanggapi tudingan tersebut.
Sebelumnya, Ken juga mengungkap ia sempat kehilangan komunikasi dengan pihak perusahaan setelah menolak permintaan tertentu. Ia bahkan mengaku baru tahu namanya dicoret dari rencana tur reuni F4 melalui pemberitaan media, sementara posisinya disebut kemudian diisi oleh vokalis Mayday, Ashin.
Di sisi lain, pihak promotor menyampaikan pemutusan kerja sama terjadi karena Ken dianggap beberapa kali membocorkan informasi rahasia tur lewat siaran langsung, sehingga membuat mitra menarik kembali pendanaan.
































